SUBULUSSALAM, 24 September 2026 — Ketegangan memuncak di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. PT Asdal kembali melaporkan warga ke pihak berwajib. Lima warga dilaporkan dengan tuduhan pencurian sawit; satu orang lainnya terpaksa melarikan diri. Padahal, yang mereka bawa hanya empat janjang sawit — diangkut menggunakan sepeda motor.
Saat ditangkap oleh petugas keamanan perusahaan, empat janjang sawit itu langsung diambil kembali oleh pihak PT Asdal. Namun warga tetap dibawa dan ditahan. Hingga kini, mereka sudah berada di tahanan Polres selama 45 hari.
Lima Kepala Kampung bersama Camat dan Mukim Sultan Daulat bergerak cepat demi perdamaian. Mereka berusaha menjumpai pemilik PT Asdal secara langsung untuk menyelesaikan masalah ini melalui musyawarah, sebagaimana yang selama ini menjadi jalan penyelesaian bersama. Namun pemilik perusahaan menolak untuk bertemu.
"Kami yang selama ini menyelesaikan segala persoalan dengan perusahaan ini, kini seakan tidak dipedulikan. Pemilik PT Asdal tidak mau menemui kami," ungkap Suharto, salah satu Kepala Kampung yang warganya ditahan, kepada awak media.
Suharto menegaskan tuduhan yang disampaikan pihak manajemen sangat berlebihan.
"Yang diambil warga kami hanya beberapa janjang, bukan satu dam truk seperti yang dituduhkan HRD dan Manajer PT Asdal. Ini sungguh keterlaluan! Perusahaan berdiri di sebelah desa kami, seharusnya justru menyerap tenaga kerja warga sekitar. Faktanya, pekerjanya justru orang luar. Warga kami hanya mengambil sedikit, dan dibalas dengan penahanan berbulan-bulan."
Pihak desa tetap berharap PT Asdal membuka pintu perdamaian. Namun penolakan bertemu dan sikap kaku pihak manajemen membuat situasi semakin memanas.
"Sudah 45 hari warga kami ditahan. Kami tetap mencari jalan keluar agar mereka segera dilepaskan. Namun jika pihak Asdal terus menutup mata dan tidak menggubris, apa lagi yang bisa kami lakukan? Jangan salahkan jika masyarakat akhirnya kalap dan turun menuntut keadilan ke depan pintu perusahaan," tegas Suharto dengan nada mengancam.
Pertanyaan publik kini tertuju kepada HRD dan Manajer PT Asdal:
Apakah empat janjang sawit bernilai lebih mahal daripada keadilan dan keharmonisan hidup bertetangga? Apakah keuntungan perusahaan harus dibayar dengan kebebasan warga sekitar yang selama ini hidup berdampingan? Menutup diri dari dialog bukanlah kekuatan — melainkan tanda ketidakmampuan menjaga kedamaian
Saat awak media kompirmasi via wa kepada Menejer dan HRD PT Asdal sampai berita ini naik keredaksi belum ada jawaban sama sekali.
Masyarakat menuntut keadilan dan penyelesaian secara kekeluargaan sebelum ketegangan berkembang menjadi hal yang tidak diinginkan.(IP)****

.png)
0 Komentar