ACEH--SUBULUSSALAM – Kondisi memprihatinkan menimpa Satuan Pendidikan Dasar (SD) Panglima Saman di Kecamatan Ronding, Kota Subulussalam, Aceh. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang ilmu bagi generasi penerus ini kini terabaikan: puluhan siswa terpaksa duduk bersila di lantai saat belajar, tanpa ada meja maupun kursi layak untuk menulis.
Kondisi ini pertama kali terungkap lewat unggahan warga di media sosial Facebook yang kemudian menyebar luas dan memancing kemarahan publik. Saat dikonfirmasi awak media, salah satu tenaga pendidik di sekolah tersebut membenarkan kenyataan pahit itu, namun enggan disebutkan identitasnya demi keamanan diri.
"Benar sekali, anak-anak setiap hari belajar di lantai. Tidak ada tempat duduk, tidak ada meja untuk mereka menulis. Kami sudah berharap perbaikan, tapi sampai sekarang tidak ada perubahan sama sekali," ujar guru tersebut dengan nada kecewa, Senin (20/7).
Kekacauan di sekolah ini tak berhenti pada fasilitas yang kosong melompong. Berbagai keluhan juga muncul terhadap kinerja Kepala Sekolah yang menyandang gelar Dokter. Sumber di lingkungan sekolah menyebutkan, pemimpin sekolah ini justru sangat jarang tampak di lokasi tugas, sehingga pengawasan dan pelayanan pendidikan menjadi sangat lemah.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat dan tenaga pendidik: Ke mana sebenarnya alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang seharusnya digunakan untuk perawatan gedung, pengadaan sarana belajar, dan kebutuhan sekolah lainnya?
Bukan hanya itu, publik pun mempertanyakan kelayakan sosok bergelar akademis tinggi tersebut memimpin lembaga pendidikan tingkat dasar ini. Apakah gelar yang disandangnya lebih penting daripada dedikasi, kehadiran nyata, dan kepedulian terhadap nasib murid-murid yang tertinggal?
Lebih runyam lagi, kebiasaan tidak disiplin ternyata tidak hanya menimpa pimpinan sekolah. Banyak guru lain juga tercatat sering absen atau jarang masuk mengajar tanpa alasan jelas. Tanpa keteladanan dari pemimpin, disiplin di lingkungan sekolah pun runtuh, membuat suasana belajar menjadi kacau dan tidak terarah.
Masyarakat dan tenaga pendidik menuntut Dinas Pendidikan Kota Subulussalam turun tangan secepatnya. Mereka meminta instansi terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penggunaan dana sekolah dan segera mengganti Kepala Sekolah yang dinilai tidak mampu serta tidak peduli dengan nasib pendidikan di sana.
"Kami butuh pemimpin sekolah yang benar-benar hadir, peduli, dan bekerja untuk anak-anak. Bukan sekadar nama besar di depan nama, tapi tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kelas. Jika tidak sanggup, mengapa harus membiarkan murid-murid menderita seperti ini?" tegas sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kepala Sekolah maupun pihak Dinas Pendidikan Kota Subulussalam terkait keluhan ini.(IP)****
.png)
0 Komentar