Belawan bukan sekadar pelabuhan yang sibuk siang dan malam. Di balik riuh aktivitasnya, ada keresahan yang diam-diam pernah dirasakan warga—tentang rasa aman yang kadang terasa rapuh.
Sepanjang Januari hingga April 2026, sebanyak 211 kasus kejahatan jalanan berhasil ditangani oleh Polres Pelabuhan Belawan. Angka itu mungkin terlihat seperti data biasa. Namun bagi masyarakat, itu adalah potret dari berbagai kejadian yang pernah mengusik ketenangan—pencurian, kekerasan, hingga ketakutan yang sempat membayangi.
Dalam konferensi pers di Aula Tribrata, Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Rosef Efendi, S.I.K.M.H.C.P
.H.R.menyampaikan bahwa pencurian dengan pemberatan masih menjadi kasus yang paling mendominasi, dengan 77 kejadian. Disusul pencurian dengan kekerasan sebanyak 16 kasus—peristiwa yang tak hanya merugikan, tapi juga meninggalkan trauma.
“Kami melihat pergerakan kasus yang fluktuatif. Januari 27 kasus, Februari 20, Maret sempat turun menjadi 10, namun April kembali naik menjadi 20 kasus. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujarnya, Sabtu (25/04/2026).
Bagi warga, naik turunnya angka itu bukan sekadar grafik. Itu adalah rasa was-was yang datang dan pergi—tentang apakah jalanan masih aman dilalui, apakah keluarga bisa pulang dengan tenang.
Namun di tengah kekhawatiran itu, ada upaya yang terus berjalan.
Polres Pelabuhan Belawan tak hanya menghadapi kejahatan jalanan, tetapi juga berhadapan dengan kejahatan lintas negara. Sebanyak 30 tersangka berhasil diamankan, sebuah langkah yang menunjukkan bahwa ancaman besar pun tidak dibiarkan tumbuh tanpa perlawanan.
Sebagian dari mereka telah menjalani proses hukum, sementara lainnya masih dalam penanganan. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pomal, menjadi bukti bahwa menjaga keamanan bukanlah tugas satu pihak saja—melainkan tanggung jawab bersama.
melawan narkoba juga menjadi cerita yang tak kalah berat. Dalam empat bulan terakhir, 199 kasus berhasil diungkap dengan 116 tersangka diamankan.
Di balik angka itu, ada kisah yang lebih dalam tentang generasi yang hampir terseret, tentang keluarga yang berharap anaknya kembali ke jalan yang benar. Dari 79 kasus pengedar hingga 30 pengguna yang diarahkan ke rehabilitasi, terselip harapan bahwa masih ada kesempatan untuk berubah.
“Kami berterima kasih kepada media dan masyarakat yang terus mendukung. Keamanan di wilayah Pelabuhan Belawan adalah prioritas kami,” tegas Kapolres.
Apresiasi pun datang dari tokoh masyarakat, Haji Irfan Hamidi. Baginya, kehadiran aparat dan kolaborasi dengan berbagai pihak membawa rasa tenang yang perlahan kembali dirasakan warga.
Namun lebih dari itu, ia menyampaikan pesan yang sederhana, tapi menyentuh—kepada para tersangka yang kini harus berhadapan dengan hukum.
“Kalian adalah anak-anak terbaik bagi orang tua kalian. Jadikan ini yang terakhir. Masih ada waktu untuk berubah dan menjadi lebih baik,” ucapnya.
Pesan itu bukan hanya untuk mereka yang tersandung kasus, tetapi juga menjadi pengingat bagi semua—bahwa di tengah kerasnya kehidupan, selalu ada jalan untuk kembali.
Senada dengan itu, M. Badlun Al Kholidi mengajak masyarakat untuk tidak hanya berharap pada aparat, tetapi juga ikut menjaga lingkungan masing-masing.
Sebab pada akhirnya, rasa aman bukan hanya diciptakan oleh penegak hukum—melainkan dibangun bersama, dari kepedulian kecil setiap warga.(QDRi)





0 Komentar