Ticker

6/recent/ticker-posts

PANIK MINYAK DI SUBULUSSALAM: WARGA ANTRI BERJAM-JAM, PEMKO DIAM SAJA SEOLAH TAK PUNYA PEMIMPIN


Subulussalam – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut stok minyak Indonesia hanya bertahan 21 hari bak menyiram bensin ke api kepanikan di Kota Subulussalam, Aceh. 

Masyarakat berduyun-duyun menyerbu pom bensin, bahkan tak sedikit yang mengisi bahan bakar minyak (BBM) berulang kali dalam satu hari, meski PT Pertamina telah memberikan jaminan tegas bahwa stok minyak untuk kebutuhan mudik Lebaran aman dan mencukupi. Napsu ketakutan kehilangan akses BBM jelas telah mengalahkan logika rasional di kalangan warga.
 
Dari pantauan awak media di lapangan, antrean panjang masih terlihat menjulang di dua titik krusial, yakni Galon Penanggalan dan Galon Simpang Kiri. Warga rela menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan jatah BBM, 

Sementara di sisi lain, praktik penjualan eceran dengan harga yang melambung tinggi marak terjadi. Hal ini tentu semakin membebani pundak masyarakat yang sudah terhimpit. Apalagi, di bulan puasa dan jelang Lebaran ini, daya beli warga terlihat sangat rendah. Pedagang-pedagang di pasar dan pinggir jalan tampak lesu, omzet mereka merosot drastis, namun kesulitan ini seolah tak sampai ke telinga para pejabat.
 
Yang paling menyayat hati dan memicu kemarahan publik adalah sikap Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam yang hingga saat ini masih diam seribu bahasa. Tidak ada reaksi cepat, tidak ada langkah nyata, dan tidak ada upaya persuasif untuk meredakan kepanikan yang melanda warga.

 Pemko Subulussalam seakan cuek bebek, tidak peduli sedikit pun terhadap kegelisahan yang melanda rakyatnya. Mereka membiarkan warga berlarut-larut dalam ketidakpastian, membiarkan harga BBM eceran meroket tanpa kendali, dan membiarkan antrean panjang terus terjadi tanpa ada upaya penyelesaian.
 
Salah satu tokoh masyarakat Subulussalam, yang enggan disebutkan namanya, dengan tegas menyoroti ketidak pedulian ini. "Sikap Pemko ini seolah-olah kota ini tidak punya pemimpin. Mereka membiarkan masyarakat panik tanpa suara, tanpa pemberitahuan apa pun, dan tanpa solusi. Di saat rakyat butuh pegangan dan kepastian, justru pemimpinnya menghilang," ujarnya dengan nada kecewa.
 
Ketidak hadiran tindakan nyata dari Pemko Subulussalam di tengah krisis kepercayaan dan kepanikan ini adalah sebuah kegagalan kepemimpinan yang nyata. Rakyat tidak butuh pejabat yang hanya bisa duduk di kursi empuk saat keadaan aman, tapi menghilang saat rakyat membutuhkan perlindungan dan kepastian. 

Sampai kapan Pemko akan terus diam? Sampai kapan mereka membiarkan warga berjuang sendiri menghadapi kepanikan ini? Rakyat menunggu jawaban, bukan lagi kebisuan yang menyakitkan.
 
 Sumber: Mitra86 Sergap com.

Posting Komentar

0 Komentar