Ticker

6/recent/ticker-posts

Buka Puasa Diduga Pilih Pilih Wartawan, PHE NSO Dikecam, Polda Aceh Diminta Audit Anggaran Publikasi



LHOKSEUMAWE , mitra86sergap.com

Kegiatan buka puasa bersama yang digelar Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) pada Jumat, 7 Maret 2026 di salah satu Hotel , justru menuai kritik tajam dari kalangan wartawan di wilayah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Acara yang diklaim sebagai ajang silaturahmi antara perusahaan migas tersebut dengan insan pers dinilai tidak mencerminkan kebersamaan. 

Pasalnya, undangan disebut hanya diberikan kepada segelintir wartawan tertentu, sementara ratusan jurnalis lain di wilayah tersebut tidak dilibatkan.
Kebijakan ini memicu kekecewaan di kalangan wartawan lokal. Sejumlah jurnalis bahkan menyebut pola seperti ini bukan pertama kali terjadi dalam agenda yang digelar perusahaan migas tersebut.

“Kami merasa dianaktirikan. PHE NSO hanya mengundang sebagian kecil media. Padahal perusahaan energi lain seperti Pema Global Energi dan Perta Arun Gas biasanya mengundang wartawan secara terbuka,” ujar seorang wartawan dari Aceh Utara yang hadir di lokasi meski tidak menerima undangan resmi.

Menurutnya, kegiatan seperti buka puasa bersama seharusnya menjadi momentum mempererat hubungan antara perusahaan dan seluruh insan pers, bukan justru menimbulkan kesan eksklusif dan diskriminatif.
Kekecewaan tersebut bahkan memuncak di akhir acara. Beberapa wartawan yang datang tanpa undangan menyampaikan protes karena tidak menerima biaya transportasi maupun paket sembako yang biasanya diberikan dalam kegiatan serupa.

Situasi di dalam ruangan sempat memanas dan menimbulkan ketegangan sebelum akhirnya berhasil diredam oleh panitia penyelenggara.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut.

Sementara itu, wartawan Muhazir dari lintasberitaindonesia.com menilai pola kegiatan seperti ini sudah berulang setiap tahun dan perlu menjadi perhatian serius.

“Setiap tahun selalu ada wartawan yang tidak dilibatkan. Ini seharusnya menjadi evaluasi bagi perusahaan agar tidak terkesan memilih-milih media,” ujarnya.

Muhazir juga meminta Kepolisian Daerah Aceh untuk melakukan audit terhadap penggunaan anggaran publikasi perusahaan tersebut.

“Kami meminta Polda Aceh segera mengaudit anggaran publikasi yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah yang digunakan PHE NSO untuk media di Aceh, khususnya di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Ini penting agar pengelolaannya lebih transparan dan tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan publik,” tegasnya.

Kritik serupa juga disampaikan Thaifuri, wartawan Buser.siaga.com. Ia mengaku sangat kecewa karena selama ini tidak pernah diundang dalam kegiatan yang digelar perusahaan tersebut.

“Kami ini wartawan dari wilayah timur Aceh Utara. Tapi setiap ada kegiatan seperti ini, yang diundang hanya wartawan itu-itu saja. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya,” ungkap Thaifuri.

Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan ketidakterbukaan penggunaan anggaran publikasi oleh perusahaan migas tersebut.

“Jika memang ada anggaran publikasi yang besar, harusnya transparan dan tidak hanya dinikmati oleh media tertentu. Kami berharap aparat bisa mengusutnya agar ke depan lebih terbuka dan adil,” pungkasnya.

Abuyan

Posting Komentar

0 Komentar