PEKANBARU,mitra86sergab.com . Polda Riau bersama Kodam XIX/Tuanku Tambusai dan stakeholder terkait terus meningkatkan kewaspadaan serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Riau. Upaya tersebut dilakukan menyusul hasil pemantauan satelit secara real time yang menunjukkan tingginya aktivitas deteksi titik panas di sejumlah wilayah.( Minggu , 23 Agustus 2026 )
Berdasarkan pemantauan pada Minggu, 23 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, terdeteksi sebanyak 313 titik hotspot di wilayah Provinsi Riau. Dari jumlah tersebut, sebanyak 310 titik terdeteksi melalui satelit NASA, sedangkan 3 titik lainnya terdeteksi melalui satelit HIMAWARI.
Menindaklanjuti hasil pemantauan tersebut, pasukan darat gabungan yang terdiri dari personel Polda Riau, Kodam XIX/Tuanku Tambusai, serta stakeholder terkait terus melaksanakan langkah-langkah penanganan secara maksimal. Kegiatan dilakukan melalui pemadaman dan pendinginan pada lokasi yang berdasarkan hasil verifikasi lapangan terindikasi sebagai titik api.
Selain di wilayah Provinsi Riau, peningkatan deteksi hotspot dan firespot juga terpantau di sejumlah wilayah lain di Pulau Sumatra. Berdasarkan pemantauan satelit NASA, terdapat sekitar 710 deteksi panas regional dalam kurun waktu kurang dari 24 jam di luar wilayah Provinsi Riau.
Hasil analisis pergerakan angin menunjukkan arah angin bergerak dari Tenggara menuju Barat Laut dengan kecepatan sekitar 16 kilometer per jam. Dari analisis tersebut, diperkirakan sekitar 70 dari 710 kelompok deteksi panas regional memiliki lintasan angin yang berpotensi bergerak masuk ke wilayah Provinsi Riau, khususnya pada lapisan rendah dan lapisan permukaan, berdasarkan pola pergerakan angin dalam kurun waktu sekitar 12 jam terakhir.
Sumber deteksi panas tersebut diperkirakan berasal dari wilayah regional Jambi dan sejumlah wilayah Sumatra yang berada di sekitar Provinsi Riau.
Polda Riau menegaskan bahwa data hotspot dan arah angin hasil pemantauan satelit merupakan informasi awal yang sangat penting sebagai bahan pemetaan dan penentuan prioritas penanganan Karhutla. Namun demikian, keberadaan hotspot tidak secara otomatis menunjukkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sehingga tetap diperlukan verifikasi secara langsung di lapangan.
Untuk itu, verifikasi lapangan secara terpadu dan berkelanjutan terus dilakukan oleh personel gabungan bersama stakeholder terkait. Verifikasi tersebut bertujuan memastikan kondisi faktual di lokasi, meliputi keberadaan titik api, luasan area yang terdampak, tingkat keparahan, serta kebutuhan penanganan lebih lanjut.
Situasi Karhutla di Provinsi Riau saat ini masih menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan secara intensif, mengingat tingginya jumlah deteksi hotspot baik di wilayah Riau maupun kawasan regional Pulau Sumatra.
Sinergi antara Polda Riau, Kodam XIX/Tuanku Tambusai, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder terkait akan terus diperkuat dalam rangka mempercepat proses verifikasi, pemadaman, pendinginan, sekaligus mencegah meluasnya titik api.
Seluruh data hasil pemantauan satelit akan terus dijadikan sebagai bahan informasi awal dan pemetaan situasi. Sementara itu, hasil verifikasi serta kondisi faktual di lapangan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah penanganan dan pelaporan selanjutnya.
Polda Riau mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah meluasnya Karhutla serta menjaga kondisi lingkungan dan kualitas udara di Provinsi Riau.
Sumber : Humas Polda Riau
( Darmayani )

.png)
0 Komentar